Pertama -- dan kemungkinan paling utama -- belum adanya mata pelajaran yang mewadahi pembelajaran tentang pemrograman. Tapi, bukankah dulu pernah ada TIK yang sekarang muncul kembali di Kurkulum 2013 sebagai Informatika?
Betul, di awal-awal saya mengampu TIK pada 2005 silam silabus yang berlaku pada saat itu sudah melibatkan pembelajaran pemrograman (Visual Basic). Namun seiring dengan berlalunya waktu, tak berapa lama ad revisi silabus yang meniadakan materi pemrograman dari TIK, sehingga siswa hanya terfokus pada hardware dan software, sistem operasi, manajemen file, word processor, spreadsheet, dan presentation sejak mereka duduk di kelas X hingga kelas XII, dan itu tak ada pemrograman sama sekali!
Sampai tiba saatnya pada 2013 lalu TIK benar-benar 'dihilangkan dari kelas', dan hanya sebagai Bimbingan TIK saja. Itupun tidak seluruh sekolah melaksanakannya. Pada akhirnya muncul Informatika sebagai pengganti TIK. Sayangnya, inipun belum semua sekolah menyelenggarakannya saat ini.
Kedua, pemrograman itu terlihat rumit dan dibutuhkan keahlian khusus untuk menguasainya. Kode-kode yang aneh terlihat tidak lazim bila dibandingkan dengan bahasa natural manusia. Beragamnya bahasa pemrograman menambah kesulitan tersendiri untuk memilih mana yang paling mudah diantaranya.
Ketika, kalau pun diselenggarakan di sekolah mungkin itu hanya pada momen tertentu saja, semisal hanya pada saat ada kompetisi KSM Informatika. Selama ini bahasa pemrograman yang digunakan adalah Pascal, bahasa pemrograman prosedural yang terbilang 'jadul'. Belakangan pada 2021 ini ada peningkatan ke bahasa pemrograman C++.
Menurut saya pribadi, tak ada bahasa pemrograman yang sulit kecuali jika belum-belum kita sudah merasa 'alergi' terhadapnya. Saya cenderung memulainya berangkat dari sebuah permasalahan, lalu berusaha mencari pemrograman apa yang paling cocok dan sederhana untuk menyelesaikannya, hingga kemudian mendapatkan lompatan ke bahasa pemrograman yang lebih kompleks.

Posting Komentar